Rezeki Bertambah Setelah Aku Menikah

Di zaman yang semakin maju dan penuh persaingan, semakin banyak pasangan yang enggan menikah muda. Hal ini bisa dimengerti karena banyak perusahaan yang memberi syarat belum menikah pada calon pegawainya, atau memberi syarat bersedia tidak menikah dan mengandung dalam jangka waktu tertentu. Maka saya tidak heran jika banyak wanita yang menunda menikah demi memiliki penghasilan dan karir yang mapan.

Kisah ini dimulai saat saya masih menjadi seorang mahasiswi, usia saya saat itu 21 tahun. Ketika itu, saya memiliki kekasih yang berusia satu tahun lebih tua dari saya. Dia adalah pria yang baik, tidak pernah meninggalkan ibadah wajib dan memiliki usaha sablon pakaian sejak lulus dari SMA. Memang, usahanya ini masih skala kecil, tetapi kesungguhannya untuk mandiri membuat saya percaya bahwa dia adalah pria bertanggung jawab yang bisa menjadi pemimpin rumah tangga yang baik.

Sebelum saya lulus, kekasih saya memberanikan diri untuk menemui orang tua saya dan meminta kesediaan mereka untuk merestui hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Orang tua saya keberatan, karena mereka tidak ingin kuliah saya berantakan karena menikah. Mereka juga menganggap bahwa calon suami saya dan saya sendiri belum memiliki pondasi keuangan yang cukup untuk membangun rumah tangga.

Saya sadar bahwa uang memang bukan segalanya, tetapi saya juga sadar bahwa uang adalah hal yang penting untuk sebuah pernikahan, apalagi jika kelak saya sudah memiliki anak. Tetapi saya dan kekasih saya meyakinkan pada orang tua kami bahwa jodoh dan rezeki sudah ada yang mengatur, niat kami baik dengan menikah. Kami tidak ingin pernikahan kami tidak mendapat restu, sehingga kami pelan-pelan meminta kepercayaan orang tua kami bahwa kami akan bertanggung jawab penuh pada keputusan kami untuk menikah.

Akhirnya restu itu kami dapatkan. Saya menikah sebelum usia 22 tahun. Setelah menikah, kami langsung tinggal di sebuah kontrakan kecil yang sangat sederhana. Sebenarnya, jika saya mau, saya bisa saya menumpang di rumah orang tua, tetapi kami memutuskan untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab atas keputusan kami, seperti janji kami kepada orang tua. Saya juga harus menuntaskan janji untuk lulus dengan nilai yang baik.

Jujur, saya melewati masa-masa yang sulit di awal pernikahan kami. Suami saya harus membiayai uang kuliah saya, membayar uang kontrakan, tagihan listrik dan sebagainya. Untuk makan, saya tidak keberatan hanya makan nasi, tahu dan sayur bayam bening setiap hari, saya menikmatinya. Kami tetap percaya bahwa menikah tidak akan menutup pintu rezeki kami. Kami percaya rezeki kami telah dipersiapkan, tetapi rezeki itu tidak akan jatuh begitu saja, kami yang harus menjemput rezeki itu dengan berbagai usaha.

Banyak orang menyayangkan keputusan saya untuk menikah muda. Kehidupan saya yang berkecukupan sebelum menikah harus saya ganti dengan hidup sederhana bahkan prihatin. Tetapi janji Allah terbukti pada pernikahan saya

Iklan

Kisah Cinta Abadi Dalam Sepiring Nasi Goreng

Cinta, satu kata yang bisa mengungkap banyak makna. Cinta sering datang begitu saja tanpa mengetuk pintu hati seseorang, tiba-tiba dia tumbuh dan berkembang tanpa permisi. Saat cinta itu bersemi, rasanya semua kebahagiaan di dunia hadir dalam hidupku.

***

Kisah ini dimulai saat aku masih berusia 13 tahun, aku masih tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Barat. Aku adalah anak perempuan yang pemalu, apalagi dalam usia itu, aku mengalami puber dan agak merasa aneh jika dekat-dekat dengan para pemuda, seperti anak usia puber pada umumnya.

Di depan rumahku, ada keluarga yang baru pindah, kira-kira baru tiga minggu. Aku tahu bahwa salah satu anak mereka berusia hampir sama denganku, namanya Yoga. Remaja di tahun 1990 tidak seperti remaja sekarang yang lebih mudah berekspresi, remaja di tahunku lebih malu-malu dan menjaga sikap. Begitulah yang aku alami, aku sedikit penasaran dengan Yoga, tetapi hanya berani melihat dari jauh. Kadang aku sengaja menyiram halaman rumah saat sore hari hanya untuk melihat kedatangannya sepulang dari sekolah.

Saat itu aku tidak mengerti apa yang aku rasakan, jantungku rasanya melompat di tempat saat aku melihat senyumnya. Aku benar-benar polos saat itu, aku sempat berpikir jangan-jangan Yoga mengirim guna-guna untukku. Tetapi itu hanya pikiran polos anak perempuan yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.

Pada satu pagi yang cerah, aku sendirian di rumah, keluargaku menjemput nenek di bandara dan badanku agak demam, sehingga aku memutuskan tidak ikut. Tiba-tiba pintu rumahku diketuk, dan pemuda yang berdiri di depan rumah adalah Yoga. Kakiku rasanya lemas seketika, tetapi aku berusaha tersenyum. Aku melirik sebuah nampan berisi dua piring nasi goreng yang dibawa Yoga.

“Aku baru memasak nasi goreng, tapi kebanyakan,” ujarnya. “Kamu mau membantu menghabiskannya?”

Aku mengangguk pelan, kemudian aku mempersilakan Yoga duduk di teras rumah. Tidak perlu menunggu waktu lama, Yoga mulai bercerita kalau nasi goreng itu adalah eksperimen pertamanya dalam dunia memasak.

“Tadi aku lapar, ayah dan ibu belum pulang dari dinas luar kota,” ujarnya sambil mengunyah nasi goreng.

Aku lebih banyak tersenyum dan mengangguk pelan. Jujur, aku malu. Entah malu kenapa, yang pasti aku malu, tetapi juga senang karena bisa duduk di samping Yoga.

“Enak tidak?” tanyanya.

“Enak,” jawabku sambil memberanikan diri menatap wajah Yoga sambil tersenyum. Padahal, jujur saja, aku merasa nasi goreng itu sedikit hambar. Tak apa, ini adalah nasi goreng terenak yang pernah aku nikmati.

Hanya begitu saja, aku bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Memang, mungkin banyak orang yang menyebutnya cinta monyet. Tetapi aku bisa merasa nyaman di samping Yoga, mendengar ceritanya, senyum hangatnya, dan mungkin dia tidak sadar bagaimana jantungku seperti mau lepas dari tempatnya.

Sayang, aku belum sempat mengenal Yoga lebih jauh. Hanya 2 bulan setelah seporsi nasi goreng itu, keluargaku harus pindah ke Sulawesi, pemerintah sedang menggalakkan program transmigrasi. Mau tidak mau, aku berpisah dengan Yoga.

Dia adalah cinta pertamaku dan selamanya, baca lanjutan kisah ini di Kisah Cinta Abadi Dalam Sepiring Nasi Goreng II.

Hati Emas Pemulung, Adopsi 30 Bayi Terlantar

Banyak orang yang tega membuang bayi yang masih hidup dengan banyak alasan. Malu karena sang bayi lahir di luar pernikahan, atau.. takut karena tidak punya  biaya untuk menghidupi sang bayi. Tapi tahukah Anda, seorang pemulung di China mampu mengadopsi 30 bayi yang dibuang. Inilah kebesaran hati Tuhan yang kadang tak mampu dirasakan semua orang.

Nama wanita ini adalah Lou Xiaoying, usianya saat ini 88 tahun. Pekerjaannya adalah pemulung sampah, suami Lou Xiaoying telah meninggal 17 tahun yang lalu. Keadaan hidup yang sulit dan keterbatasan ekonomi tidak mengecilkan hati Lou Xiaoying untuk berbuat baik pada sesama manusia. Dia telah mengadopsi 30 bayi sejak tahun 1972.

Walaupun usianya sudah menua, kebaikan hati Lou Xiaoying tidak surut dimakan usia. Anak adopsi yang paling muda saat ini berusia enam tahun, namanya Zhang Qilin. Lou Xiaoying menemukan bayi tersebut di tempat sampah. Dengan kondisi yang lemah, wanita itu membawa sang bayi ke rumahnya yang sangat kecil untuk dirawat. “Kini dia sudah menjadi anak yang sehat dan bahagia,” ujar Lou Xiaoying.

(c) idigitaltimes

Lou Xiaoying (c) idigitaltimes

Sementara itu, anak adopsi pertama ditemukan Lou Xiaoying di jalan, seorang bayi perempuan. “Ia terbaring di antara sampah di jalan, terlantar,” kenang wanita tua itu. Dengan keterbatasan Tidak semua bayi yang ditemukan dan dirawat Lou Xiaoying terus bersamanya hingga dewasa. Beberapa di antara mereka diadopsi keluarga yang lebih mampu.

“Saya tidak mengerti mengapa orang-orang tega meninggalkan bayi selemah itu di jalan,” ujar Lou Xiaoying. Baginya, bayi-bayi tersebut adalah makhluk hidup yang berharga, mereka seharusnya mendapat kasih sayang dan cinta.

Kisah ini mulai menyebar ke seluruh China dan mendapat perhatian dunia. Seseorang yang menaruh simpati pada kisah ini Seseorang yang simpatik terhadap Lou mengatakan bahwa pemerintah, sekolah, dan masyarakat China yang tak berbuat apa-apa seharusnya malu pada Lou. “Dia tak punya uang atau kekuasaan, tetapi mampu menyelamatkan anak-anak dari kematian dan kondisi yang lebih parah,” ungkapnya.

Kisah nyata ini membuktikan bahwa kebaikan hati seseorang tidak dapat dinilai dengan materi. Seorang pemulung sampah yang kehidupannya sulit bisa memiliki hati semulia emas.

Jadilah manusia yang berguna untuk orang lain. Jangan menunggu materi atau kesempatan. Hati mulia yang akan menuntun Anda.

Waktu Yang Tepat Untuk Menikah

Jika ditanya kapan waktu yang tepat untuk menikah, apakah jawabanmu? Apakah usia 24 tahun? 25 tahun? Atau yang penting sebelum usia 30 tahun?

Bicara soal menikah, aku punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan ‘kapan’ tadi, berdasarkan pengalamanku.

Usiaku saat itu 29 tahun, sudah matang, dewasa, mapan dengan karier yang terjamin. Sebagai sosok wanita, bisa dikatakan aku cukup sukses, karena punya fisik yang menurut teman-teman sangat ideal. Aku juga punya karier dan penghasilan yang sangat cukup untuk dipakai shopping, membeli baju dan sepatu yang disukai, atau travelling ke beberapa tempat yang indah saat liburan. Bagaimana dengan kekasih? Tentu saja aku juga punya kekasih yang sama mapan dan sukses saat itu. Lantas, mengapa aku belum menikah? Pertanyaan yang bagus, dan akan kujawab dengan cerita yang singkat.

Rey, sebut saja demikian, adalah pria yang menurutku sangat sempurna (sempurna itu relatif, dan sebenarnya manusia tidak ada yang sempurna.) Sudah 3 tahun kami menjalani hubungan serius, kedua belah pihak keluarga sudah saling kenal, dan bisa dibilang cukup dekat. Suatu hari, kami pergi ke sebuah cafe untuk menghabiskan waktu berdua. Kami memang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Saat itulah tiba-tiba aku memberanikan diri untuk bertanya, “Rey, kapankah kau akan menikahiku?” Rey terhenyak dan nyaris tersedak. Dia diam. Sebuah reaksi yang di luar dugaanku. Kukira dia akan tersenyum dan memegang kedua tanganku dengan hangat, ternyata tidak. Menurutku, hubungan kami sudah cukup lama, cukup matang dan kukira aku sudah siap untuk menyandang status istri. Nyatanya, malam itu Rey berpendapat berbeda. Menurutnya, ia belum siap, dan masih ingin mengejar beberapa target dalam kariernya. “Lagipula, Mel… kita masih muda dan nggak ada ketentuan juga kan harus menikah di usia sebelum 30 tahun,” jelasnya membuatku terdiam.

Sejak malam itu, hubunganku dan Rey spontan jadi renggang. Kami jarang saling memberi kabar, dan aku merasa semakin hambar saja. Tak lama, kudengar ia berhasil dipromosikan ke luar negeri. Mengecap pendidikan yang sudah lama ia incar. Dan lucunya, aku malah mendengar kabar itu dari adiknya. Kusimpulkan saja bahwa hubungan kami memang telah berakhir.

Aku sempat down dan banyak berdiam diri. Untungnya sahabat-sahabat dekatku menyadari perubahan sikapku. Mereka tak ingin melihatku bersedih dan mengajakku tetap aktif dan tidak terus mengurung diri. Bahkan, mereka sempat mengenalkan aku pada beberapa kenalan pria. Dari situ aku menyadari, ternyata banyak pribadi menarik yang selama ini kupandang sebelah mata. Aku jadi belajar mengenal banyak orang, berbagai karakter dan kelebihan. Yang jelas, aku tidak menutup diri lagi.

Dari sekian pria yang mengajakku berkenalan dan kencan, Dharma mungkin yang paling menonjol. Di luar dugaan, ternyata kami bertetangga. Kantornya berada di satu gedung denganku, katanya ia sering melihatku. Kalau aku sendiri, haha… tentu saja lebih banyak sibuk dengan gadget yang ada di tanganku. Aku merasa tak pernah melihatnya, tetapi setiap kali berdekatan dan berbincang, aku seperti telah mengenalnya sekian lama. Ia juga bukan sosok yang sesuai kriteriaku. Cenderung dibilang pria yang biasa saja, tidak tahu update fashion, simple, dan hobby olahraga.

Dalam jangka waktu setahun kami berpacaran, kami menikah. Usiaku saat itu 32 tahun, ada yang bilang sudah tua, ada yang bilang masih muda. Ah… aku tak peduli. Saat itu aku menyadari, bukan usia yang menentukan kita siap menikah atau tidak, melainkan diri kita sendiri. Dan waktu yang TEPAT UNTUK MENIKAH, adalah ketika dirimu merasa sudah siap. Bagaimana kau tahu? hatimu yang akan meneriakkannya dengan keras dan bersemangat. Tepat saat ada seorang pria yang akan menggenggam tanganmu erat, dan BERANI menemanimu berjalan melewati suka maupun duka, bersama….

Berkah Ramadan: Ayah Memeluk Islam

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Banyak sekali ampunan, rahmat, dan hidayah yang diturunkan di bulan tersebut. Salah satu contoh yang menunjukkan keagungan Allah di bulan Ramadan adalah memberikan hidayah pada seseorang yang telah dikehendaki-Nya. Berikut ini sebuah kisah inspirasi di bulan Ramadan yang terjadi tepat satu tahun lalu. Kisah ini adalah kisah yang dikirim oleh seorang sahabat Vemale asal Jakarta.

**

Aku percaya jika banyak orang menyebut bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan hikmah. Tentu saja, kepercayaan itu tidak semata-mata karena aku ikut dengan tren kalimat serupa. Tetapi, tepat di bulan Ramadan aku telah mendapatkan berkah dan hikmah yang luar biasa dalam hidupku. Itulah mengapa kusebutkan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah.

Persis setahun lalu aku mengalaminya. Di bulan Ramadan, di saat aku, ibu, dan kakakku tengah sahur, kami dikejutkan dengan perkataan ayah yang tiba-tiba. Seketika, bukannya aku tertawa atau tersenyum mendengarnya, tapi aku justru menangis haru.

**

Awalnya, keluarga kami adalah keluarga yang harmonis meski ayah dan ibu tidak memeluk agama yang sama yakni ayah Katolik, ibu Muslim. Sementara aku dan adikku mengikuti agama ayah, sedangkan kakakku mengikuti agama ibu. Seperti kesepakatan ayah dan ibu, jika anak perempuan mengikuti agama ayah dan jika anak laki-laki mengikuti agama ibu.

Sejak SD hingga SMP, aku adalah pemeluk Katolik yang taat. Tak pernah sekalipun aku meninggalkan ibadah hanya demi sekedar hang out dengan teman-temanku. Hingga menginjak kelas satu SMA, aku merasakan kebingungan yang hebat. Aku berpikiran, mengapa orang Muslim selalu bersuci sebelum menghadap Tuhannya? Sedangkan aku tidak. Lagipula, mengapa aku hanya beribadah setiap satu minggu sekali, sedangkan umat Muslim bahkan lima kali dalam sehari. Kuputar-putar otakku, kucari jawaban, hingga sesekali tak segan-segan aku membuka kitab suci ibu. Kupelajari tiap kata perkata. Jujur saja, ada rasa yang tak bisa kuungkapkan ketika aku membacanya. Indah dan mengalir kalimatnya.

Tepat satu bulan aku diam-diam mempelajari kitab suci ibu, akhirnya kuputuskan untuk memeluk agama yang sama dengan agama ibu. Diam-diam tentunya aku mengutarakan niatku pada ibu untuk diajari bagaimana menjadi Muslimah dan membaca kalimat syahadat. Akhirnya aku resmi menjadi pemeluk agama Islam dengan bimbingan ibuku sendiri.

Selama menjadi seorang Muslimah, aku memang tidak secara drastis menunjukkan perubahan sikapku pada ayah, karena aku cenderung diam-diam, khawatir dikira durhaka. Dalam kurun waktu satu tahun aku berhasil menyembunyikan statusku sebagai Muslimah. Hingga saat yang tak terduga, ayah melihatku tengah membaca Al-quran. Aku kaget tentu saja, bermacam-macam dugaan buruk berkecamuk dalam pikiran.

Benar saja, sejak ayah tahu agama baruku, beliau seolah menjaga jarak denganku. Meski sedih dengan sikap ayah yang demikian, aku tetap membulatkan tekad untuk tetap menjaga agamaku. Bahkan, aku berniat untuk mengajak ayah dan adikku untuk mengikuti jejakku. Meski aku tahu itu tak mudah.

Hingga Ramadhan tahun lalu, aku beserta ibu dan kakak tengah sahur. Saat itu, kami dikejutkan oleh kedatangan ayah dan adik yang melontarkan kalimat mengejutkan.

“Ayah sama Risma pingin belajar Islam.”

Terang saja saat itu kami hanya melongo disusul dengan menangis bersama. Subhanallah, ternyata Ramadhan memang bulan yang penuh berkah dan hidayah. Lihatlah, dua orang yang kucintai pada akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam. Bukankah itu suatu hadiah?

**

Kita tidak pernah tahu apa yang diberikan oleh Ramadan pada masing-masing diri kita. Tapi, percayalah, di dalam Ramadan terselip ribuan berkah, ampunan, hidayah, dan rezeki, jika Anda serius mencarinya.

Nilai Kejujuran

Pic: Kompasiana

Siang itu 13 Pebruari 2008, tanpa sengaja saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk – makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberagan Harmoni, dua sosok kecil berumur kira – kira delapan dan sepuluh tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.  Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar – lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Om…!”

Dan saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka. Kaki – kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki – laik lain itupun menolak dgn gaya yang sama dgn saya, lagi – lagi sayup – sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka, kantong hitam tempat stock tissue daganggan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta.

Saya melewatinya dengan lirikan ke arah dalam kantong itu, dua pertiganya terisi tissue putih berbalut plastik transparan. Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayut di langit Jakarta.  “Terima kasih ya Mbak, semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka, tak lama si wanita meronggoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

“Maaf, ngak ada kembaliaanya… ada uang pas nggak Mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut, si Mbak menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih besar menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

“Om boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan…? suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merongoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian Food Court sebesar empat ribu rupiah.  “Nggak punya, tungkas saya…!” lalu tak lama si wanita berkata “Ambil saja kembaliannya, dik…!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi.  Si wanita kaget setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, gak apa – apa ambil saja…!” namum mereka berkeras mengembalikan uang tersebut.  “Maaf Mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan..!” Akhirnya uang itu diterima si wanita tersebut karena si kecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggam saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “Om.. tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek..!”.  “Eeeeh.. nggak usah… nggak usah… biar aja…, nih…!” saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak satunya, “Nanti dulu om, biar ditukar dulu… sebentar”.  “Nggak apa – apa…, itu buat kalian” lanjut saya.  “Jangan… jangan om, itu uang om sama Mbak yang tadi juga” anak Itu bersikeras.  “Sudah nggak apa – apa…. saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha menghalangi, namum ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya.

“Ini deh Om …. kalau kelamaan, maaf ya…” ia memberikan saya 8 pack tissue.

“Lho buat apa…?” saya terbenggong….  “Habis teman saya lama sich Om.. maaf tukar pakai tissue aja dulu”  Walau dikembalikan ia tetap menolak. Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribuan.  “Terima kasih Om…!” mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup – sayup terdengar percakapan….”Duit Mbak tadi bagaimana ya..?” suara kecil yang lain menyahut “Lu hafal kan orangnya? mungkin aja kita ketemu lagi,  nanti kita kembalikan lagi uangnya”

Percakapan itu sayup – sayup menhilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan. Tuhan …. hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh dan terharu, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra.

Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta tip dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum akil balik, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu sangat belia.  Saya membandingkan keserakahan yang sering menguasai hidup kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rejeki kita meski dalam rejeki itu sebetulnya ada hak atau milik orang lain.

“Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana tapi kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak.” (JH).