my way

Tuhan mungkin saya akan berjalan sendiri untuk menghadapi hari-hari saya ke depan, tolong jalan bersama saya, karna saya tau saya tidak dapat jalan sendirian dengan mengandalkan akal saya… hidup ini berat Tuhan  saya hanya mencoba berdiri dan mengahadapi semua ini.

Bantu saya lalui hari-hari terberat ini..Me

 

Kesalahan yang Tidak Disadari

Kesalahan yang Tidak Disadari

Beberapa hal yang sepertinya sepele ternyata memengaruhi penilaian kinerja Anda. Coba cek perilaku di bawah ini. Seringkah Anda melakukannya? Jangan jangan ini yang menghambat kemajuan karier.
Berikut hal sepele yang Anda lakukan menurut Cherry Zulfiyanti, konsultan karier dari Experd, yang kami lansir dalam majalah Good Housekeeping Indonesia.
Sekadar menyetor
Menyelesaikan pekerjaan se?suai tenggat waktu dan target memang baik. Tetapi hal itu tidak otomatis membuat Anda memiliki nilai lebih. Atasan bisa membedakan mana hasil kerja yang hanya sekadar kejar setoran dan mana yang menyajikan lebih dari yang diharapkan, ungkap Cherry.

 

Jeratan media sosial
Mengobrol atau iseng membuka halaman media sosial disela-sela pekerjaan terlihat sebagai hal sepele. Namun justru saat demikianlah terlihat tinggi rendahnya keseriusan Anda dalam bekerja. Konsentrasi penuh hanya untuk pekerjaan di jam kerja memengaruhi waktu penyelesaian tugas, lho.

 

Update status
Curhat soal pekerjaan lewat status di akun media sosial? Pikir dulu. Yang memiliki akun media sosial bukan hanya Anda. Anda baru mendapat pekerjaan tambahan, lalu langsung update status ? Jadiii Kacuuuung niih? Atau lebih parah lagi menggerutu dan marah-marah di Facebook dan Twitter. Kedewasaan Anda akan segera dipertanyakan atasan, tandas Cherry. Jadi, bijaksanalah. Pikirkan selalu tindakan Anda dari sisi profesionalisme.

Mengusut Modus Putus yang Heroik

Dia mengajakmu bertemu di tempat biasa, di malam yang tidak biasa. Sudah sebulan kalian tidak bertatapan langsung, hanya berbalas pesan. Dia memang sangat sibuk belakangan ini. Kamu tak curiga, kamu hanya berpikir ini adalah kencan dadakan yang akhirnya bisa ia selipkan di sela kesibukan. Mungkin dia merindukanmu, pikirmu.

“Kamu terlalu baik kepadaku,” ucapnya tiba-tiba, dengan nada gusar. Kalau saja ia mengucapkannya sambil tersenyum, kamu pasti hanya mampu tersipu. Tetapi, kali ini wajahnya tegang.

Rasa dingin mendadak menyelimuti tubuhmu yang tadinya kebal dari angin malam.

“Maksudmu…?”

“Aku ingin kamu mendapatkan pasangan yang lebih baik, yang lebih bisa membahagiakanmu daripada diriku. Aku merasa lebih baik kita berpisah.”

Duaaarr…! Kalimat yang semula sayup-sayup itu terasa menggelegar seperti petir. Ujung yang tak pernah kamu harapkan akhirnya tiba. Ia memutuskanmu, demi kebaikanmu.

Demi kamu…

Tunggu dulu. Apakah itu benar-benar demi kebaikanmu?

Putus adalah pernyataan yang membutuhkan alasan. Tidak seperti membeli es krim di sore hari, hanya karena mendadak kepingin yang dingin-dingin. Putus tanpa alasan bukan saja dapat memunculkan rasa galau berkepanjangan, tapi juga menyisakan pertanyaan yang tak berkesudahan.

Seperti karya ilmiah yang tak punya latar belakang dan tujuan yang jelas, lalu membuatmu tak tahu arah.

Dari seribu satu alasan untuk memutuskan hubungan, alasan bernada heroik termasuk sering digunakan. Prolognya bisa bermacam-macam: “Aku bukan orang yang tepat untukmu”; “Aku ingin kamu menemukan kebahagiaanmu”; “Selama ini, aku merasa hanya menjadi beban untukmu”; dan lain-lainnya yang mengandung kata “untukmu”.

Epilognya sama: “Lebih baik kita putus.”

Alasan seperti itu terdengar tulus. Setiap orang tentu ingin menjadi pahlawan bagi kekasihnya, sekalipun ketika memutuskan hubungan. Saking cintanya, ia ingin mengutamakan kebahagiaanmu ketimbang kebahagiaannya untuk bisa menjadi kekasihmu.

Namun, alasan itu bisa juga sekadar jubah domba yang menyembunyikan serigala.

Ketika ia mengatakan ia bukan orang yang tepat untukmu, barangkali di dalam hatinya ia sedang menyatakan: kamu bukan orang yang tepat untuknya. Atau ia mengatakan bahwa ia ingin kamu menemukan kebahagiaanmu, sebenarnya ia juga ingin menemukan kebahagiaannya.

Ia tidak berbohong — kamu memang akan lebih bahagia tanpanya. Ia sudah bosan denganmu, atau sudah menemukan orang yang lain.

Dengan modus putus yang heroik, deritamu tidak berhenti sampai di situ; sisi paling menyiksa masih menanti. Kamu akan digantung, karena modus putus yang heroik menyisakan cinta yang belum tuntas.

Apalagi ketika kamu masih begitu mencintainya. Kamu akan tak henti-henti menanyakan apakah ia juga masih mencintaimu. Kalau pun nantinya ia jadian dengan orang lain, ia punya alasan heroik lainnya: agar kamu bisa move on.

Memang, tidak semua pasangan adalah Romeo dan Juliet. Saya percaya ada orang yang, ketimbang memperjuangkan hubungan yang penuh rintangan, lebih memilih memutuskan pacarnya demi kebaikan bersama.

Ada cinta yang nyaris tulus, yang dapat membuat seseorang bahagia ketika orang yang ia cintai bahagia, sekalipun itu berarti melihatnya bersama orang lain. Seperti Arwin dalam cerita “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” karya Dewi Lestari, yang sempat merelakan istrinya, Rana, agar ia bisa bahagia dengan Re, sang Ksatria.

Namun, putus yang terdengar terlalu tulus, patut dicurigai. Memutuskan hubungan dengan berlagak pahlawan? Bisa jadi modus yang paling pecundang.

Panduan Cara Meminta Maaf yang Jitu

Terkadang orang-orang merasa sangat menyesal atas apa yang telah mereka lakukan terhadap orang lain, namun sulit untuk mengungkapkannya. Cara berikut memerlukan waktu lima menit dan hampir selalu berhasil.

Bersungguh-sungguh
Jangan mencoba untuk melupakan kesalahan Anda dengan sebuah alasan atau permohonan maaf yang lemah. Anda hanya akan menjadikan kesalahan semakin buruk.

Jadi, jangan katakan “Itu bukan hal yang besar,” “Saya tidak bermaksud melakukannya,” atau “Anda terlalu berlebihan”. Sebaliknya, katakanlah “Saya telah membuat kesalahan besar,” “Seharusnya saya tidak melakukannya,” atau “Saya seharusnya tahu mana yang benar.”

Akui kesalahan yang sebenarnya

Bagian terkecil dari sebuah kesalahan (melewatkan makan malam, komentar yang tidak pada tempatnya) merupakan sebuah gejala untuk dari bentuk perlawanan yang besar. Sebuah permintaan maaf yang baik mengungkapkan masalah yang maksud dengan menggunakan kata “karena”.

Jadi jangan katakan “Maaf, saya lupa tentang rencana makan malam kita”. Sebaliknya, katakanlah “Maaf, saya lupa rencana makan malam kita, saya sangat tidak sopan dengan membatalkan rencana kita pada saat-saat terakhir.”

Jangan bilang “tapi”
Satu kata itu dapat merusak permohonan maaf Anda. Itu adalah sebuah cara untuk menutupi kesalahan (“Maaf saya lupa tentang acara makan malam kita, tapi Anda seharusnya mengingatkan saya”).

Gunakan perkataan bukan dompet
Tidak ada yang dapat menggantikan sebuah kejujuran, memberi pasangan Anda bunga atau hadiah lainnya untuk permohonan maaf dapat diartikan sebagai sebuah sogokan. Hadiah tersebut mengungkapkan penyesalan Anda, tapi tidak menunjukkan bahwa Anda mengerti apa kesalahan Anda. Bila Anda ingin memberikan hadiah, lakukan itu nanti, hadiah itu akan lebih bermakna ketika diberikan dengan tulus.

Make Lasagna Without Turning on Your Oven

Make Lasagna Without Turning on Your Oven

By Wendy Ruopp, Managing Editor ofEatingWell

When the weather is still warm, who wants to make dinner in a hot oven? Still, sometimes I get a hankering for lasagna, no matter what the temperature is outside. I just want it to magically appear for dinner, without all the boiling and baking usually required.

 

Poof! The EatingWell Test Kitchen has granted my wish by creating this vegetarian lasagna recipe I can make in my slow cooker (recipe below). No hot oven! I don’t even have to boil the noodles. Summertime and the layering is easy.

 

I’m always happy to load up on fresh vegetables at this time of year, and with all the portobello mushrooms, zucchini and garlic in this recipe there’s so much flavor I don’t miss the meat. To round out the healthful deliciousness, whole-wheat noodles and part-skim ricotta add fiber and cut back on fat. Make Slow-Cooker Vegetarian Lasagna for dinner tonight and you can still enjoy the summer weather or even begin planning for back to school (sorry, I can’t make that magically disappear).

Looking for more ways to use your slow cooker for vegetarian meals? Check out EatingWell’s collection of Vegetarian Slow Cooker Recipes.

Slow-Cooker Vegetarian Lasagna
Makes: 8 servings
Active time: 30 minutes | Slow-cooker time: 2 hours on High or 4 hours on Low
Equipment: 6-quart (or larger) slow cooker

Sure, the slow cooker’s great for stews and soups, but it also happens to make a mean lasagna! In this ingenious slow-cooker recipe, all you have to do is chop your veggies, then layer the ingredients (raw) into the crock pot.
Serve with: Garlic bread and a green salad.

1 large egg
1 15- to 16-ounce container part-skim ricotta
1 5-ounce package baby spinach, coarsely chopped
3 large or 4 small portobello mushroom caps, gills removed (see Tip), halved and thinly sliced
1 small zucchini, quartered lengthwise and thinly sliced
1 28-ounce can crushed tomatoes
1 28-ounce can diced tomatoes
3 cloves garlic, minced
Pinch of crushed red pepper (optional)
15 whole-wheat lasagna noodles (about 12 ounces), uncooked
3 cups shredded part-skim mozzarella, divided

1. Combine egg, ricotta, spinach, mushrooms and zucchini in a large bowl.
2. Combine crushed and diced tomatoes and their juice, garlic and crushed red pepper (if using) in a medium bowl.
3. Generously coat a 6-quart or larger slow cooker with cooking spray. Spread 1 1/2 cups of the tomato mixture in the slow cooker. Arrange 5 noodles over the sauce, overlapping them slightly and breaking into pieces to cover as much of the sauce as possible. Spread half of the ricotta-vegetable mixture over the noodles and firmly pat down, then spoon on 1 1/2 cups sauce and sprinkle with 1 cup mozzarella. Repeat the layering one more time, starting with noodles. Top with a third layer of noodles. Evenly spread the remaining tomato sauce over the noodles. Set aside the remaining 1 cup mozzarella in the refrigerator.
4. Put the lid on the slow cooker and cook on High for 2 hours or on Low for 4 hours. Turn off the slow cooker, sprinkle the reserved mozzarella on the lasagna, cover and let stand for 10 minutes to melt the cheese.

Per serving: 414 calories; 14 g fat (8 g sat, 4 g mono); 63 mg cholesterol; 48 g carbohydrate; 0 g added sugars; 28 g protein; 7 g fiber; 641 mg sodium; 829 mg potassium. Nutrition bonus: Calcium & Vitamin A (56% daily value), Vitamin C (39% dv), Iron & Magnesium (26% dv), Zinc (25% dv), Potassium (24% dv), Folate (18% dv).

Tip: The dark gills found on the underside of a portobello mushroom cap are edible, but can turn a dish an unappealing gray color. If you like, gently scrape the gills off with a spoon.

What’s your favorite recipe for beating the heat?

By Wendy Ruopp

Wendy Ruopp has been the managing editor of EatingWell for most of her adult life. Although she writes about food for the Weeknights column of EatingWell Magazine, her husband does the cooking at home.